Punden Ngesong, Oase Spiritual di Tengah Modernitas Surabaya

Punden Ngesong Surabaya. Foto : (Yovinus Guntur/Lokawarta)

Loka, Surabaya – Di kawasan Dukuh Kupang yang dijejali gedung pencakar langit tersimpan sebuah situs yang dikeramatkan oleh warga lokal. Namanya adalah Punden Ngesong. Tempat ini bukan sekadar peninggalan purbakala, melainkan simbol identitas dan sejarah panjang “Babat Alas” pemukiman di Surabaya.

Punden Ngesong dipercaya sebagai makam atau petilasan dari tokoh leluhur yang membabat hutan (pembuka lahan) daerah tersebut. Tokoh yang paling sering dikaitkan dengan tempat ini adalah Mbah Singo Menggolo atau Mbah Buyut Ngesong.

Secara bahasa, kata “Ngesong” dalam bahasa Jawa merujuk pada kondisi tanah yang berlubang atau membentuk rongga/gua kecil di bawah tanah (seperti sarang hewan). Konon, dahulu di lokasi ini terdapat lubang alami yang dianggap memiliki kekuatan mistis dan menjadi tempat bertapa para leluhur.

Beberapa catatan lisan menyebutkan bahwa tokoh yang dimakamkan di sini adalah prajurit dari era Kerajaan Mataram atau pengikut setia Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke arah timur untuk menghindari kejaran Belanda. Mereka kemudian menetap, menyebarkan agama, dan membuka lahan pertanian di wilayah yang kini dikenal sebagai Dukuh Kupang dan sekitarnya.

Punden Ngesong Diyakini Sebagai Sosok Mbah Buyut Ngesong, Pembabat Alas Kawasan Ngesong. Foto : (Yovinus Guntur/lokawarta)

Kondisi Punden
Setiap tahunnya, Punden Ngesong menjadi pusat ritual sedekah bumi. Tradisi ini menunjukkan betapa kuatnya akulturasi antara kepercayaan lokal, nilai Islam, dan rasa syukur masyarakat Surabaya terhadap hasil alam. Warga biasanya berkumpul membawa tumpeng dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

Saat ini, Punden Ngesong telah mengalami renovasi agar lebih layak bagi peziarah. Meskipun dikelilingi oleh pemukiman padat dan pusat perbelanjaan, suasana di dalam area punden tetap terasa teduh karena keberadaan pohon-pohon tua yang dijaga kelestariannya.

Punden Ngesong yang terletak di Jalan Dukuh Kupang Barat ini adalah pengingat bahwa Surabaya tidak hanya dibangun dari beton, tetapi juga oleh keringat dan doa para leluhur. Menjaga punden ini berarti menjaga mata rantai sejarah agar generasi mendatang tetap mengenal jati diri “Arek Suroboyo”. (yg/red)

Bagikan

Penulis

Menu Aksesibilitas
🌓
Contrast

Bigger Text
🏁
Grayscale
🔄
Reset