Candi Sumur Sidoarjo, Warisan Majapahit di Era Hayam Wuruk

Papan Nama Candi Sumur di Sidoarjo. Foto : (Dania/Lokawarta)

Loka, Sidoarjo – Kabupaten Sidoarjo tidak hanya dikenal dengan industri dan kulinernya, tetapi juga jejak sejarah Nusantara yang bernilai tinggi. Salah satunya adalah Candi Sumur. Terletak di Kecamatan Porong, hanya sepelemparan batu dari Candi Pari, situs bersejarah ini  memantik perhatian para pencinta sejarah dan wisatawan karena arsitekturnya yang unik serta nilai budaya yang mendalam.

Sayangnya, pesona Candi Sumur dinilai belum tereksplorasi secara maksimal sebagai destinasi wisata edukasi dan budaya andalan daerah.

Khanza, salah seorang pengunjung, menyayangkan masih minimnya literasi masyarakat, terutama generasi muda, mengenai keberadaan dan makna filosofis dari candi berbahan bata merah ini.

“Candi Sumur memiliki nilai sejarah yang sangat menarik. Selain bentuk bangunannya yang unik, tempat ini bisa menjadi sarana edukasi yang hidup bagi pelajar dan wisatawan,” ujar Khanza saat ditemui di lokasi situs, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, kawasan ini membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat, khususnya dalam menjaga kebersihan dan kelestarian fisik candi. Khanza juga menekankan pentingnya digitalisasi promosi untuk mendongkrak popularitas situs ini.

“Suasana di Candi Sumur ini sebenarnya sangat tenang dan sarat nuansa masa lalu. Saya berharap fasilitas penunjang di sekitar lokasi dapat terus ditingkatkan demi kenyamanan pengunjung,” tambahnya.

Candi Sumur di Sidoarjo. Foto : (Dania/Lokawarta)

Simbol Kesetiaan di Era Majapahit

Untuk memahami pentingnya situs ini, SobatLoka harus menengok kembali catatan sejarah abad ke-14. Candi Sumur dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit, sekitar tahun 1371 Masehi. Posisinya yang berdekatan dengan Candi Pari bukanlah kebetulan, melainkan satu kesatuan kisah yang erat.

Menurut legenda setempat, Candi Sumur didirikan untuk menghormati Nyai Sumur, sahabat atau kerabat dari pembuat Candi Pari (Joko Pandelegan dan Nyai Pari). Kisah tutur menyebutkan mereka adalah tokoh-tokoh yang menolak ajakan untuk tinggal di istana Majapahit dan memilih mengabdi kepada masyarakat sebagai petani.

Secara arsitektur, Candi Sumur berukuran lebih kecil dibanding Candi Pari dan tidak memiliki tangga naik. Keunikan utama candi ini berada di bagian dalamnya: terdapat sebuah sumur kuno yang hingga kini airnya tidak pernah mengering.

Pada masa lampau, sumur di dalam candi ini diduga berfungsi sebagai tempat pemujaan dan sumber air suci untuk upacara keagamaan masyarakat Hindu-Majapahit.

Dengan nilai historis yang melekat padanya, Candi Sumur memiliki modal kuat untuk naik kelas menjadi ikon wisata budaya Sidoarjo. Optimalisasi fasilitas publik dan pengemasan kegiatan seni budaya di sekitar area candi dinilai menjadi kunci utama.

Jika dirawat dengan tepat, Candi Sumur tidak sekadar menjadi tumpukan batu bata kuno yang sunyi, melainkan media refleksi generasi hari ini untuk menghargai peradaban tinggi yang pernah berdiri di tanah Sidoarjo. (dan/red)

Bagikan

Penulis

Menu Aksesibilitas
🌓
Contrast

Bigger Text
🏁
Grayscale
🔄
Reset