Cara Madani Indonesia Menjaga Kekhusyukan Jamaah

Owner PT Cahya Mulya Madani Indonesia, Arif Sulistiyono. Foto : (Istimewa)

Loka,Surabaya – Tensi geopolitik di Timur Tengah memicu efek domino yang sampai ke kantong para calon tamu Allah. Harga avtur melonjak tajam, menyebabkan harga tiket pesawat rute Surabaya-Jeddah meroket hingga Rp5,5 juta, kenaikan tertinggi sejak satu dekade terakhir.

Namun, di tengah ketidakpastian harga, PT Cahya Mulya Madani Indonesia (Madani Indonesia) memilih berdiri tegak di sisi jamaah. Owner Madani Indonesia,  Arif Sulistiyono menjamin fluktuasi ekonomi global tidak akan memangkas kualitas pelayanan ibadah di tanah suci.

Menghadapi situasi ini, Madani Indonesia menerapkan langkah strategis guna meringankan beban finansial jamaah tanpa mengorbankan kenyamanan. Beberapa solusinya adalah pemilihan jadwal penerbangan yang lebih presisi melalui kemitraan dengan maskapai terbaik, penyediaan program tabungan umrah dan konsultasi paket yang fleksibel sesuai kemampuan keluarga dan tetap menjaga standar akomodasi dan pelayanan sesuai janji awal.

“Prinsip kami satu, jangan sampai kualitas ibadah dan kenyamanan jamaah dikorbankan. Kami menyikapi dinamika ini dengan tenang dan penuh tanggung jawab,” tegas Arif, merujuk pada tagline perusahaan yang berkomitmen mengantar jamaah dari pintu rumah hingga pintu Ka’bah.

Tertinggi Sejak 2015

Data menunjukkan harga bahan bakar pesawat untuk periode Mei 2026 menyentuh angka Rp27.358 per liter, atau naik 16,16 persen dibanding bulan sebelumnya. Imbasnya, harga tiket pesawat membengkak sekitar 30 hingga 40 persen.

“Komponen tiket adalah porsi terbesar dalam biaya umrah. Sejak 2015, baru kali ini ada kenaikan yang mencapai angka sedrastis ini,” ujar Arif saat dikonfirmasi, Minggu (10/5/2026).

Meski tantangan berat, Arif menegaskan bahwa transparansi adalah kunci. Alih-alih mengurangi standar hotel atau konsumsi, Madani Indonesia memilih jalur komunikasi terbuka untuk menjelaskan kondisi global yang sebenarnya kepada calon jamaah.

Kenaikan biaya ini juga menjadi perhatian serius bagi calon jamaah. Lina Wahyu Idawati, seorang PNS asal Bojonegoro yang juga jamaah setia Madani Indonesia, mengakui beban tambahan Rp5,5 juta terasa cukup menantang bagi mereka yang sedang menabung.

“Wajar ada penyesuaian karena kondisi dunia, tapi harapan kami kenaikannya tidak sampai melambung terlalu tinggi seperti kabar di media. Harapannya niat ibadah masyarakat tetap bisa terwujud,” tutur Lina.

Bagi Madani Indonesia, keberangkatan umrah bukan sekadar bisnis perjalanan, melainkan amanah spiritual. Di tengah badai harga minyak dunia, kejujuran dan pendampingan ekstra menjadi oase bagi para jamaah yang rindu bersujud di depan Baitullah. (yg/red)

 

Bagikan

Penulis

Menu Aksesibilitas
🌓
Contrast

Bigger Text
🏁
Grayscale
🔄
Reset