Loka, Surabaya β Budayawan sekaligus seniman lintas media asal Jawa Timur, M. Taufik Hidayat atau yang akrab disapa Taufik Monyong, meluncurkan inovasi media interaktif bernama “Kartu Aksara Jawa”.
Langkah ini diambil sebagai upaya konkret untuk membendung fenomena de-kulturalisasi atau pengikisan budaya lokal di kalangan generasi muda akibat penetrasi tren luar, seperti kartu Tarot Barat.
Latar belakang penciptaan kartu ini berakar dari keprihatinan Taufik terhadap hilangnya ikatan emosional dan intelektual anak muda dengan aksara tradisional.
“Ini adalah salah satu cara kami untuk mengembalikan budaya Nusantara di Tanah Jawa. Kita melihat realitas di lapangan bahwa kebudayaan asli kita semakin ditinggalkan oleh masyarakat, khususnya anak muda, karena mereka jauh lebih tertarik terhadap budaya luar,” kata Taufik saat memberikan keterangan kepada media di Surabaya, Kamis (11/6/2026).

Modifikasi 20 Simbol Hanocoroko
Melalui proses riset yang panjang, Taufik mentransformasikan 20 simbol dasar Honocoroko menjadi sebuah sistem media permainan interaktif. Proyek ini bahkan telah didaftarkan ke Pusat Pelayanan Hukum (Legal Hub) Kanwil Kemenkumham Jatim guna mendapatkan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Secara struktur, satu set Kartu Aksara Jawa ini berjumlah tepat 92 kartu. Jumlah tersebut merangkum konstelasi linguistik dan teologis Jawa kuno, melebihi kapasitas standar kartu tarot konvensional yang biasanya hanya berjumlah 78 kartu.
Secara visual, desain kartu memadukan struktur kartu permainan modern bersama simbolisme Nusantara. Beberapa ornamen yang menonjol di antaranya formasi geometris menyerupai gunungan wayang, aksen warna tradisional hitam-merah, hingga ilustrasi karakter topeng dan mitologi Aji Saka.
βDari segi fungsionalitas, cara membaca permainannya mirip seperti kartu tarot, namun sepenuhnya digerakkan dengan landasan Filsafat Jawa,β kata Taufik.
Setiap helai kartu yang terbuka tidak merujuk pada arkaisme Eropa lama, melainkan membedah tatanan teologis, ramalan laku hidup, serta pesan makrokosmos dan mikrokosmos (jagat gede-jagat cilik) yang melekat pada urutan Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

Target Masuk Kurikulum Sekolah
Lebih dari sekadar instrumen permainan visual, Taufik kini tengah memperjuangkan misi agar Kartu Aksara Jawa ini dapat masuk ke dalam ekosistem pendidikan formal di sekolah-sekolah sebagai media pembelajaran alternatif. Ia menilai metode pengajaran bahasa daerah selama ini cenderung kaku.
“Selama ini pelajaran bahasa daerah sering kita anggap sesuatu yang membosankan karena metodenya hafalan di papan tulis. Nah lewat kartu ini, kita bawa metode gamifikasi belajar lewat interaksi sosial yang tidak kalah dengan permainan Barat,” jelas mantan Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur tersebut.
Melalui permainan kartu ini, Taufik berharap aspek yang terserap bukan sekadar kemampuan literasi penulisan (panyeratan), melainkan internalisasi pendidikan karakter berbasis moralitas dan budi pekerti.
Ia pun mengajak para pemangku kebijakan, mulai dari guru muatan lokal hingga dinas pendidikan terkait, untuk membuka ruang bagi pemanfaatan media belajar ini di kelas.
“Kita tidak bisa melarang budaya luar masuk, tapi kita bisa memperkuat benteng pertahanan dari dalam. Dengan kartu ini kita bisa menjaga warisan leluhur kita. Ini adalah tuntunan yang bisa kita pakai,” pungkas Taufik. (ann/red)







