Loka, Surabaya – Di balik tatapan matanya yang tajam dan reputasinya yang misterius, burung hantu kini semakin populer sebagai satwa peliharaan di wilayah urban. Karakteristik fisiknya yang unik dan pembawaannya yang tenang kerap memikat hati para pencinta satwa.
Namun, membawa pulang seekor burung hantu ke lingkungan domestik bukanlah perkara mudah seperti memelihara burung berkicau konvensional. Sebagai predator puncak dengan insting liar yang kuat, merawat mereka menuntut pemahaman ekologis yang mendalam dan komitmen waktu yang luar biasa.
Jika SobatLoka merasa siap menjadi bagian dari perjalanan hidup satwa unik ini, berikut adalah panduan dan tips memelihara burung hantu secara etis demi menjaga kesejahteraannya (animal welfare):
- Pahami Regulasi dan Pilih Spesies yang Sesuai
Sebelum melangkah lebih jauh, hal paling krusial yang wajib diperiksa adalah status hukum satwa tersebut. Banyak spesies burung hantu di Indonesia yang berstatus dilindungi undang-undang. Memeliharanya secara ilegal bukan hanya tindakan tidak etis, tetapi juga pelanggaran hukum pidana.
Bagi pemula, spesies Celepuk (Sunda Scops Owl) sering kali menjadi pilihan. Ukurannya yang relatif kecil (sekitar 15–20 cm) membuat mereka lebih adaptif dengan ruang domestik dibandingkan spesies besar seperti Barn Owl (Burung Hantu Serak Jawa) atau Buffy Fish Owl (Burung Hantu Ketupa).
- Menghargai Siklus Nokturnal
Burung hantu adalah makhluk malam. Ini adalah hukum alam yang tidak bisa diubah. Memaksa burung hantu untuk aktif di siang hari demi kepuasan visual akan memicu stres berat, menurunkan imunitas, hingga mempersingkat usia mereka.
SobatLoka harus siap dengan konsekuensi bahwa interaksi utama, pemberian makan, dan aktivitas pelatihan akan banyak menyita waktu malam kalian. Ruang penempatannya pun harus memiliki sudut yang gelap dan tenang pada siang hari agar mereka bisa beristirahat tanpa gangguan bising.
- Diet Ketat Sang Karnivora Murni
Burung hantu tidak mengonsumsi biji-bijian, pelet, atau buah-buahan. Mereka adalah karnivora murni (obligate carnivores). Nutrisi utama mereka harus berasal dari daging utuh yang segar.
Untuk Jenis Kecel/Celepuk: Makanan utama bisa berupa jangkrik hidup, ulat hongkong, atau sesekali anak tikus (pinkies).
Berikan makan secara konsisten dua kali sehari, yakni pada saat subuh dan menjelang malam hari, menyesuaikan dengan jam berburu mereka di alam liar.
Jangan pernah memberikan daging olahan (seperti sosis atau kornet) karena sistem pencernaan mereka tidak dirancang untuk menerima bahan pengawet dan garam.
- Sediakan Ruang “Perch” yang Layak, Bukan Sangkar Sempit
Memasukkan burung hantu ke dalam sangkar besi berjeruji sempit seperti burung kenari adalah bentuk penyiksaan tersembunyi. Jeruji besi berisiko merusak bulu-bulu sayapnya yang sensitif yang di alam liar berfungsi untuk terbang tanpa suara.
Metode terbaik adalah dengan menyediakannya Perch (tangkringan khusus) di area terbuka atau ruangan khusus (free room). Kaki mereka harus diikat dengan tali khusus bertekstur lembut (leash/jesse) yang cukup panjang agar mereka tetap bisa mengepakkan sayap dan berpindah tempat dengan aman tanpa risiko kabur ke luar rumah.
- Investasi Waktu untuk Bonding dan Jinak
Burung hantu tidak memiliki konsep “setia” seperti anjing atau kucing. Hubungan dengan mereka didasarkan pada tingkat kepercayaan (trust). Pada awal adopsi, lakukan proses bonding dengan konsiste. Bersihkan tangkringannya secara rutin, beri makan langsung dari tangan (hand-feeding), dan ajak berinteraksi dengan suara lembut.
Hindari membuat gerakan mengejutkan atau suara yang terlalu melengking di dekat mereka, karena pendengaran burung hantu sangat sensitif dan mereka mudah merasa terancam.
Memelihara burung hantu adalah sebuah komitmen jangka panjang, mengingat beberapa spesies dapat hidup hingga belasan tahun. Redaksi mengingatkan bahwa esensi tertinggi dari memelihara satwa eksotis bukanlah untuk sekadar gaya hidup atau pamer di media sosial, melainkan komitmen untuk menjadi “pelindung” yang menjamin hak-hak hidup mereka terpenuhi dengan layak.
Jika SobatLoka tidak memiliki waktu luang di malam hari atau merasa keberatan menyediakan mangsa hidup setiap harinya, membiarkan mereka terbang bebas di alam liar adalah keputusan paling bijaksana yang bisa diambil. (dn/red)







