Loka, Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus menajamkan sistem tata kelola sampah di Kota Pahlawan. Kini fokus utama bergeser pada akurasi volume infrastruktur di tiap Tempat Penampungan Sementara (TPS) agar tidak ada lagi sampah yang meluber atau menimbulkan bau tak sedap.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan, wajah Surabaya tercermin dari kebersihan TPS-nya. Hal ini ia sampaikan saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di TPS Prapen DKK, Selasa (28/4/2026).
Redaksi memantau langsung proses sterilisasi yang kini menjadi SOP baru di Surabaya. Setelah sampah diangkut menuju TPA Benowo, area TPS tidak dibiarkan begitu saja.
“Alhamdulillah, matur nuwun. Seperti yang saya sampaikan, setiap TPS itu harus bersih. Jadi setelah diangkut ke TPA, lokasi disiram dan diberikan eco enzyme agar tidak bau. Ini sudah berjalan,” ujar Eri Cahyadi di sela sidak.
Rumus Menghitung Sampah
Eri Cahyadi meminta para Camat dan Lurah tidak lagi menggunakan perasaan dalam menentukan kebutuhan bak sampah (tongbin). Ia menginstruksikan perhitungan berbasis data riil jumlah penduduk di setiap Rukun Warga (RW).
Merujuk pada PP Nomor 81 Tahun 2012, Eri menjelaskan, beban sampah satu orang rata-rata mencapai 0,6 kilogram per hari. Angka inilah yang menjadi dasar perhitungan.
Pendataan Per-RW: Jumlah warga dikalikan 0,6 Kg untuk menemukan total timbulan sampah harian.
Kapasitas Tongbin: Total berat sampah dibagi kapasitas per unit tongbin (250 liter).
Faktor Koefisien: Hasil perhitungan dikalikan koefisien 0,3 untuk mengantisipasi lonjakan volume mendadak.
“Jadi tidak dipaskan. Kalau butuh 5, kita sediakan 6 atau 7. Targetnya tidak boleh ada tongbin yang terbuka karena kapasitas tidak cukup,” tegas Eri.
Pantauan Real-Time Lewat GPS
Selain infrastruktur fisik, Pemkot Surabaya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga mengoptimalkan teknologi informasi. Eri Cahyadi mengungkapkan seluruh armada truk pengangkut sampah kini dipantau secara real-time menggunakan GPS.
Langkah ini diambil untuk memastikan efisiensi waktu tempuh dari TPS ke TPA serta mencegah adanya armada yang “nakal” atau tidak beroperasi sesuai shift yang ditentukan.
“Saya minta DLH menghitung detail, termasuk plat nomor mobil. Di monitor saya bisa tahu mobil ini ke mana saja, berapa jam dia dari TPA balik ke TPS. Semua terpantau,” imbuhnya.
Eri berharap dengan perencanaan yang matang dan dukungan teknologi, masalah klasik persampahan di Surabaya dapat tuntas hingga ke tingkat lingkungan terkecil. Ia meminta seluruh aparatur wilayah memahami kebutuhan riil lapangan agar kebijakan yang diambil tepat sasaran. (ss/red)







