Taman Mozaik ; Dari Lahan Terbengkalai, Jadi Taman Ikonik

Taman Mozaik Surabaya. Foto : (Maps/Iqbal)
Taman Mozaik Surabaya. Foto : (Maps/Iqbal)

Loka, Surabaya – Di balik padatnya kawasan Surabaya Barat, berdiri sebuah instalasi seni raksasa. Taman Mozaik, begitu warga menyebutnya. Bukan sekadar ruang terbuka hijau biasa, taman ini telah menjelma menjadi kanvas warna-warni yang membiaskan cahaya matahari menjadi harmoni visual yang memanjakan mata.

Begitu melangkah masuk ke area taman yang terletak di Jalan Raya Wiyung ini, pandangan SobatLoka akan langsung tertambat pada sebuah bangunan menyerupai rumah kaca tanpa dinding.

Alih-alih kaca bening, bangunan ini disusun dari panel-panel akrilik warna-warni yang membentuk pola geometris. Saat sinar matahari menerpa, bayangan berwarna-warni jatuh ke lantai semen, menciptakan efek mozaik yang fotogenik dan magis.

Dari Lahan Terbengkalai Menjadi Ruang Ikonik

Awalnya, lahan seluas kurang lebih 5.100 meter persegi ini hanyalah lahan kosong milik Pemerintah Kota Surabaya yang kurang terawatt. Namun, di bawah visi pembenahan kota yang gencar dilakukan sejak era Wali Kota Tri Rismaharini, lahan ini disulap menjadi taman tematik.

Pembangunan Taman Mozaik dimulai pada pertengahan tahun 2019 dan diresmikan secara bertahap untuk publik. Konsep utama taman ini adalah Instagrammable Spot, sebuah respons pemerintah kota terhadap tren gaya hidup digital masyarakat urban. Pemerintah ingin membuktikan bahwa ruang publik tidak hanya berfungsi sebagai “paru-paru kota”, tetapi juga sebagai ruang ekspresi seni dan rekreasi keluarga yang modern.

Ruang Sosial yang Inklusif

Taman Mozaik bukan hanya milik para pemburu foto aesthetic. Di sore hari, tempat ini menjadi saksi interaksi sosial warga Surabaya. Anak-anak berlarian di jalan setapak yang tertata rapi, sementara para lansia duduk menikmati angin sepoi-sepoi di bangku-bangku taman yang dikelilingi vegetasi hijau yang mulai rimbun.

Kehadiran taman ini mengubah wajah Wiyung yang dulunya dikenal gersang dan padat menjadi lebih humanis. “Ini adalah cara kami menghirup udara segar tanpa harus keluar kota,” ujar Ratna, salah satu pengunjung yang tengah asyik berswafoto.

Meskipun ukurannya tidak seluas Taman Bungkul, Taman Mozaik menawarkan keintiman tersendiri. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa di tengah ambisi beton sebuah metropolis, ruang-ruang penuh warna dan udara segar tetaplah kebutuhan dasar yang tak tergantikan. (yg/red)

Bagikan

Penulis

Menu Aksesibilitas
🌓
Contrast

Bigger Text
🏁
Grayscale
🔄
Reset