Loka, Kediri – Di lereng utara Gunung Kelud, tepatnya di Dusun Kebonagung, Desa Brumbung, Kecamatan Kepung, sebuah rahasia besar perlahan bangkit dari timbunan tanah sedalam tiga meter. Petirtaan Geneng, sebuah situs pemandian kuno, kini tak lagi sekadar onggokan bata merah, melainkan jendela menuju kemegahan peradaban masa lalu yang sempat “dihilangkan” oleh alam.
Ditemukan secara tidak sengaja oleh warga yang tengah menggali lahan, situs ini membawa ingatan publik kembali ke masa transisi antara akhir Kerajaan Kadiri hingga kejayaan Majapahit. Bukan sekadar tempat mandi, petirtaan ini diyakini sebagai tempat penyucian diri (ruwat) sebelum melakukan upacara keagamaan di kompleks percandian sekitarnya.
Keistimewaan Petirtaan Geneng tak lepas dari keberadaan Prasasti Geneng I dan II yang ditemukan di kawasan tersebut. Prasasti ini mencatat bahwa wilayah Geneng merupakan Sima atau tanah perdikan—daerah yang dibebaskan dari pajak karena memiliki tugas suci menjaga bangunan suci kerajaan.
Struktur bangunan yang simetris dengan sistem pengairan (jaladwara) yang canggih menunjukkan betapa maju rekayasa hidrologi leluhur Nusantara. Air yang mengalir di sini bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan simbol kesucian yang menghubungkan manusia dengan sang pencipta.
Keindahan tersebut sempat tertutup rapat. Para arkeolog menemukan lapisan pasir vulkanik dan bebatuan andesit tebal yang menyelimuti struktur bangunan. Diduga kuat, letusan dahsyat Gunung Kelud pada masa silam—kemungkinan besar sekira tahun 1500-an—menimbun situs ini dalam sekejap, menjadikannya sebuah “Pompeii” kecil di tanah Jawa.
Kini, setelah proses ekskavasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), Petirtaan Geneng mulai bersolek. Warga desa setempat tidak hanya melihatnya sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai identitas kolektif yang harus dijaga.
“Situs ini adalah pengingat bahwa kita tinggal di tanah yang punya sejarah besar. Tugas kita sekarang bukan cuma menonton, tapi merawat agar anak cucu tahu akarnya,” ujar Andre, salah satu warga yang ditemui di kawasan situs, Rabu (15/4/2026).
Bagi pengunjung yang datang, Petirtaan Geneng menawarkan suasana hening yang magis. Gemericik air dan tatanan bata kuno seolah mengajak siapa pun untuk sejenak melambat, menghargai waktu, dan merenungi betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam.
Berjarak satu jam perjalanan dari pusat Kota Kediri, akses menuju lokasi ini cukup mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi. Meski fasilitas pendukung masih terus dikembangkan, kesahajaan lokasi ini justru menjadi daya tarik bagi para pecinta sejarah dan pencari ketenangan. (yg/red)







