Loka,Klaten – Di balik kemegahan arsitektur purbakala Jawa Tengah, terdapat sebuah situs yang tidak hanya berkisah tentang kejayaan masa lalu, melainkan juga tentang indahnya harmoni. Candi Plaosan, yang berdiri anggun tak jauh dari Candi Prambanan, hingga kini kokoh bertahan sebagai simbol abadi perpaduan budaya serta toleransi antara iman Buddha dan Hindu sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno.
Dibangun pada abad ke-9, kompleks suci ini merupakan buah cinta dari ikatan suci Rakai Pikatan, seorang raja pemeluk Hindu, dan Sri Kahulunnan atau Pramodhawardhani, putri mahkota yang taat beragama Buddha. Kisah cinta beda keyakinan kedua tokoh besar inilah yang menjiwai berdirinya Plaosan, menjadikannya sebuah monumen persatuan di tengah keberagaman yang mendahului zamannya.
Secara administratif dan tata ruang, kompleks Candi Plaosan terbagi menjadi dua area utama, Plaosan Lor (Utara) dan Plaosan Kidul (Selatan). Uniknya, sekat-sekat perbedaan agama seolah melebur di sini. Struktur bangunan menampilkan perpaduan harmonis antara stupa khas Buddha dan gaya arsitektur Hindu yang anggun.
Dinding-dinding candi dihiasi relief yang memotret denyut nadi kehidupan masyarakat Jawa kuno, bersanding dengan arca Buddha dan ukiran halus yang masih terjaga keasliannya hingga hari ini.
Kini, Plaosan tidak sekadar menjadi artefak bisu. Ia bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup—menjadi pusat edukasi budaya, panggung kegiatan seni, hingga ruang kontemplasi bagi para pelancong yang mencari ketenangan.
Dari Edukasi Budaya hingga Oase Pagi Hari
Daya pikat Plaosan diakui langsung oleh Abbas, seorang warga lokal asal Klaten yang sering menghabiskan waktunya di sekitar situs ini. Baginya, Plaosan memiliki magis tersendiri yang memadukan kenyamanan, kebersihan, dan nilai sejarah yang mendalam.
“Tempatnya cukup indah dan bersih. Saya senang bisa melihat langsung peninggalan sejarah yang masih terawat seperti ini,” ujar Abbas penuh kagum.
Bagi Abbas dan banyak pengunjung lainnya, Candi Plaosan juga menawarkan sisi fungsional yang menyatu dengan alam. Lanskap sekitar candi yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan siluet pegunungan menciptakan panorama yang memukau, terutama saat sang surya terbit dan terbenam.
“Saya kadang menyempatkan diri untuk lari pagi atau jogging di kawasan Plaosan. Sebab pemandangan matahari terbit atau sunrise di sini sangat bagus,” tambahnya.
Melalui pesona alam dan sejarahnya, Abbas berharap generasi muda dapat mengambil pelajaran penting dari Plaosan. Merawat situs ini bukan sekadar menjaga tumpukan batu, melainkan merawat pesan leluhur tentang pentingnya menjaga perdamaian dan toleransi dalam bingkai bangsa. (dan/red)







