Loka, Surabaya – SobatLoka, di balik deretan bangunan kolonial yang berjajar di Jalan Genteng Kali, Surabaya, berdiri sebuah gedung putih yang menyimpan memori kolektif bangsa. Eks gedung sekolah Sekolah Ongko Loro (Sekolah Angka Dua) di masa Hindia Belanda itu, kini telah bersalin rupa menjadi Museum Pendidikan Surabaya.
Bukan sekadar deretan lemari kaca, museum yang diresmikan akhir 2019 ini adalah sebuah lorong waktu. Mengajak pengunjung menyelami bagaimana masyarakat Nusantara perlahan-lahan melepaskan diri dari belenggu buta aksara menuju fajar pencerahan.
Masa Pra Aksara ke Era Kolonial
Memasuki museum ini, pengunjung disambut dengan pembagian zona yang tertata apik. Perjalanan dimulai dari Masa Pra-Aksara, di mana jejak komunikasi purba terekam. Narasi kemudian berlanjut ke Masa Klasik, yang menampilkan replika prasasti dan naskah-naskah daun lontar, bukti bahwa leluhur telah memiliki peradaban literasi yang tinggi jauh sebelum kertas ditemukan.
“Melihat naskah kuno di sini mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar urusan sekolah modern, tapi warisan nilai yang turun-temurun,” ujar Nancy, salah satu pengunjung yang terpaku di depan koleksi manuskrip, Kamis (23/4/2026).
Beranjak ke zona Masa Kolonial, suasana berubah drastis. Di sini, pengunjung bisa melihat potret diskriminasi pendidikan masa lalu, di mana bangku sekolah adalah barang mewah yang hanya bisa diakses oleh kaum bangsawan dan warga Eropa.
Salah satu daya tarik utama museum ini adalah koleksi alat bantu ajar yang kini mungkin dianggap asing oleh generasi Z. Tersimpan rapi di balik kaca, terdapat Sabak dan Grip ataulempengan batu dan alat tulis yang digunakan siswa sebelum buku tulis massal tersedia.
Tak hanya itu, terdapat deretan mesin ketik tua, proyektor film kuno, hingga ijazah-ijazah asli dari berbagai era yang kertasnya telah menguning. Di sudut lain, sebuah sepeda tua yang dulu menjadi kendaraan mewah para guru berdiri dengan gagah, menyimbolkan dedikasi tanpa batas para pendidik di masa lampau.
Museum Pendidikan Surabaya tidak tampil kaku. Dengan memanfaatkan arsitektur Indische yang memiliki plafon tinggi dan jendela besar, udara di dalam museum terasa sejuk meski tanpa pendingin ruangan yang berlebihan. Ruang terbuka di bagian tengah seringkali menjadi tempat diskusi bagi komunitas sejarah maupun pelajar yang ingin mengerjakan tugas dengan suasana berbeda.
Pemerintah Kota Surabaya tampaknya serius menjadikan museum ini sebagai laboratorium sosial. Lokasinya yang strategis—berdekatan dengan Taman Ekspresi dan tidak jauh dari gedung sekolah bersejarah lainnya—menjadikannya destinasi wajib dalam paket wisata heritage Surabaya.
Menghidupkan Nilai Kebangsaan
Di tengah gempuran digitalisasi, keberadaan Museum Pendidikan menjadi pengingat penting: bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah buah dari investasi pendidikan para pendahulu.
Museum ini bukan hanya tempat menyimpan benda mati, melainkan sebuah monumen perjuangan intelektual. Ia mengajarkan bahwa setiap goresan grip di atas sabak adalah langkah awal menuju kedaulatan bangsa.
Jika SobatLoka sedang berada di Surabaya, sempatkanlah menepi sejenak di Jalan Genteng Kali Nomor 10. Di sana, sejarah pendidikan tidak hanya diceritakan, tapi dirasakan. (yg/red)







