Mata Air Sejarah Jenggala di Sendang Agung

Sendang Agung Menyimpan Sejarah Era Kerajaan Jenggala. Foto : (Yovinus Guntur/Lokawarta)

Loka, Sidoarjo – Di Desa Urangagung, Kecamatan Sidoarjo, terdapat sebuah situs yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu selama berabad-abad. Namanya adalah Sendang Agung. Di balik ketenangan airnya, situs ini menyimpan narasi panjang tentang pelarian bangsawan, syiar agama, dan daya tahan sebuah tradisi.

Bagi masyarakat lokal, Sendang Agung bukan sekadar sumber air. Ia adalah titik pusat gravitasi budaya yang menghubungkan masa lalu kerajaan dengan realitas masyarakat modern saat ini.

Jejak Bangsawan Jenggala
Secara historis, keberadaan Sendang Agung diyakini memiliki kaitan erat dengan masa surutnya Kerajaan Jenggala. Menurut penuturan tokoh setempat, wilayah Urangagung dulunya merupakan tempat persembunyian para kerabat kerajaan yang melarikan diri dari konflik kekuasaan.

“Diperkirakan Sendang Agung dari era Kerajaan Jenggala,” ujar Siswo, tokoh setempat. Selasa (28/4/2026)

Nama “Urangagung” sendiri diyakini merujuk pada sosok Eyang Urangagung (beberapa literatur menyebutnya sebagai tokoh bangsawan yang menyamar), yang pertama kali membuka lahan (babat alas) di wilayah ini.

Sendang Agung kemudian ditemukan dan dijadikan pusat pemukiman karena mata airnya yang tidak pernah surut, bahkan di musim kemarau paling ekstrem sekalipun.

Mitos dan Spiritualisme yang Terjaga
Sendang Agung memiliki dua kolam utama yang secara tradisional dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan. Keberadaan dua pohon besar yang menaungi sendang ini menambah kesan sakral sekaligus melindungi kelestarian debit air.

Mitos yang berkembang di tengah masyarakat menyebut air sendang ini memiliki khasiat penyembuhan dan ketenangan batin. Hal ini membuat Sendang Agung sering dikunjungi oleh peziarah yang ingin melakukan ritual ngalap berkah atau sekadar melakukan mandi suci (padusan) menjelang hari besar keagamaan.

β€œTempat ini adalah muara doa. Orang datang ke sini untuk mencari ketenangan, sekaligus mengingat kembali jasa para leluhur yang telah menjaga alam ini untuk kita,” tutur Siwo.

Harmoni Manusia dan Alam
Simbolisme sejarah Sendang Agung mencapai puncaknya saat upacara Ruwat Desa. Setiap tahun, ribuan warga berkumpul membawa tumpeng dan hasil bumi ke area sendang. Prosesi ini merupakan bentuk syukur kolektif sekaligus upaya “membersihkan” desa dari marabahaya.

Secara sosiologis, Sendang Agung berfungsi sebagai ruang kelas terbuka bagi generasi muda Sidoarjo untuk mempelajari etika lingkungan. Pesan yang disampaikan jelas: selama mata air ini dijaga kebersihannya, maka kehidupan desa akan terus berlanjut.

Saat ini, penataan di sekitar Sendang Agung terus dilakukan tanpa menghilangkan ruh aslinya. Dinding bata merah yang tertata rapi serta pembangunan area santai menjadikan tempat ini destinasi wisata sejarah yang terjangkau bagi keluarga.

Namun, tantangan besar tetap membayangi. Urbanisasi yang masif di Sidoarjo menuntut komitmen kuat dari pemerintah daerah dan masyarakat untuk memastikan daerah tangkapan air di sekitar sendang tidak tertutup beton.

Menjaga Sendang Agung adalah menjaga identitas Sidoarjo. Di tengah deru mesin pabrik, Sendang Agung tetap setia mengalirkan kejernihan sejarah yang mengingatkan kita dari mana kita berasal. (yg/red)

Bagikan

Penulis

Menu Aksesibilitas βœ•
πŸŒ“
Contrast
ε€§
Bigger Text
🏁
Grayscale
πŸ”„
Reset