Jejak Cinta di Pawitra, Eksotisme Petirtaan Jolotundo

"Suguhan" bagi Leluhur di kompleks Petirtaan Jolotundo. Foto : (Lokawarta/Yovinus Guntur)
"Suguhan" bagi Leluhur di kompleks Petirtaan Jolotundo. Foto : (Lokawarta/Yovinus Guntur)

Loka, Mojokerto – Bagi SobatLoka, yang memiliki hobi mendaki gunung atau mengunjungi tempat bersejarah di Jawa Timur, tentu tidak asing dengan nama yang satu ini. Ya, di lereng barat Gunung Penanggungan, yang sering disebut sebagai Gunung Pawitra, ada sebuah mahakarya arsitektur kuno berdiri kukuh menantang zaman, yakni Petirtaan Jolotundo.

Petirtaan ini, bukan sekadar kolam pemandian biasa, melainkan narasi visual tentang kesucian air, kemegahan Kerajaan Kahuripan, dan bukti cinta yang dipahat di atas batu andesit.

Hawa sejuk langsung menyergap saat memasuki area situs yang terletak di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto ini. Gemericik air yang keluar dari celah-celah dinding batu memberikan ketenangan yang sulit dicari di tengah hiruk-pikuk kota. Dan, Jolotundo menyimpan sejarah yang sangat dalam.

Monumen Kelahiran dan Cinta

Dibangun pada tahun 997 Masehi, pada era pemerintahan Raja Makutawangsawardhana, Jolotundo sejatinya adalah persembahan untuk menyambut kelahiran sang putra legendaris, yakni Prabu Airlangga. Berdasarkan angka tahun yang terpahat pada dinding situs, tempat ini dibangun oleh Raja Udayana dari Bali sebagai bentuk penyambutan bagi putranya yang kelak menjadi penguasa besar di tanah Jawa.

Struktur bangunan ini dirancang menyerupai replika Gunung Penanggungan, yang dalam kosmologi Hindu dianggap sebagai puncak suci Mahameru. Air yang mengalir di sini dianggap sebagai Amritaβ€”air keabadian yang turun langsung dari kediaman para dewa.

Salah satu daya tarik utama Jolotundo, selain nilai sejarahnya, adalah kualitas airnya. Mitos yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa kualitas air di sini adalah yang terbaik kedua di dunia setelah air Zam-zam. Meski klaim ini sering diperdebatkan secara ilmiah, kenyataannya kandungan mineral di mata air Jolotundo memang sangat tinggi dan tetap jernih meski di musim kemarau sekalipun.

Hingga kini, banyak peziarah datang untuk ritual “ngalap berkah” atau sekadar membasuh muka. Mereka meyakini bahwa air dari pancuran Jolotundo dapat memberikan efek awet muda dan kesehatan fisik.

Suasana di Petirtaan Jolotundo. Foto : (Lokawarta/Yovinus Guntur)
Suasana di Petirtaan Jolotundo. Foto : (Lokawarta/Yovinus Guntur)

Arsitektur yang Bercerita

Setiap sudut Jolotundo adalah galeri seni. Struktur bangunan petirtaan yang terbuat dari batu andesit ini mengambarkan keahlian tinggi dalam seni memahat dan pembuatan bangunan pada masa itu. Motif-motif hiasan yang ada di dinding petirtaan menunjukkan pengaruh budaya Hindu yang dominan pada masa kerajaan-kerajaan di Jawa pada periode kuno.

Relief yang terpahat pada dinding-dindingnya menceritakan fragmen-fragmen epik dari naskah kuno seperti Mahabharata. Meski beberapa bagian telah aus termakan usia, keanggunan tata letak kolam yang bertingkat menunjukkan bahwa leluhur nusantara telah memiliki teknologi hidrolika yang sangat maju sejak ribuan tahun lalu.

Petirtaan Jolotundo, di era sekarang, adalah sebagai titik temu tradisi dan inovasi. Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dan akses pendidikan, generasi muda berpeluang untuk terlibat lebih dalam dalam pelestarian situs ini. Melalui cara ini, Petirtaan Jolotundo tetap relevan sebagai bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai spiritual dan identitas kolektif masyarakat setempat.

SobatLoka, mengunjungi Jolotundo bukan hanya soal wisata sejarah, tapi juga perjalanan spiritual untuk menghargai air sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga kesuciannya. (yg/red)

Bagikan

Penulis

Menu Aksesibilitas βœ•
πŸŒ“
Contrast
ε€§
Bigger Text
🏁
Grayscale
πŸ”„
Reset