Di Tengah Kepungan “Beton”, Punden Sonokwijenan Menantang Jaman

Di Dalam Bangunan Ini, Punden Sonokwijenan Menantang Jaman. Foto : (Yovinus Guntur/Lokawarta)

Loka,Surabaya – Kawasan Surabaya Barat yang identik dengan gedung perkantoran dan hunian elit ternyata menyimpan sejarah sebuah situs tua yang tetap kokoh berdiri menantang zaman.

Punden Sonokwijenan, yang terletak di wilayah Sukomanunggal, bukan sekadar tumpukan batu atau peninggalan masa lalu, melainkan simbol identitas dan “penjaga” keseimbangan sosial bagi warga asli di tengah gempuran modernitas.

Bagi masyarakat lokal, meski belum diketahui siapa sosok “penghuninya”, Punden Sonokwijenan diyakini sebagai petilasan Mbah Buyut Sedo Masjid, sosok yang dipercaya sebagai babat alas atau pendiri permukiman di wilayah tersebut.

Keberadaannya menjadi bukti bahwa Surabaya tidak hanya dibangun oleh narasi kolonial, tetapi juga oleh tokoh-punden yang dihormati di tingkat akar rumput.

Punden Sonokwijenan Surabaya. Foto :(Yovinus Guntu/Lokawarta)

Titik Temu Tradisi dan Modernitas

Meski berada di kawasan yang berkembang pesat secara ekonomi, Punden Sonokwijenan tetap menjadi pusat aktivitas komunal.

Setiap tahunnya, ritual Sedekah Bumi masih digelar dengan khidmat di area ini. Warga membawa tumpeng dan hasil bumi sebagai bentuk syukur sekaligus permohonan keselamatan. Biasanya acara ini digelar di bulan Selo atau Suro dalam penanggalan Jawa.

Secara arsitektural, punden ini memiliki ciri khas situs pemujaan lokal Jawa dengan keberadaan pohon besar (biasanya beringin atau sono) yang menaungi struktur bangunan utama.

Akar-akar tua yang membelit menunjukkan usia situs yang telah melewati berbagai dekade perkembangan kota.

β€œPunden ini adalah akar kami. Meski sekelilingnya sudah jadi mal dan apartemen, kami tidak ingin kehilangan jati diri. Merawat punden berarti merawat ingatan tentang leluhur,” ujar juru pelihara punden, Sabtu (25/4/2026)

Tantangan Pelestarian di Kawasan Elit

Eksistensi Punden Sonokwijenan bukannya tanpa tantangan. Sebagai kawasan yang masuk dalam zona pengembangan properti kelas atas, tekanan terhadap ruang terbuka hijau dan situs sejarah sangatlah tinggi.

Kesadaran warga Sonokwijenan untuk memagari situs ini dengan tradisi menjadi tameng utama dari ancaman penggusuran atau alih fungsi lahan.

Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya terus memantau status objek-objek diduga cagar budaya (ODCB) seperti ini.

Pengakuan secara legalitas menjadi krusial agar punden tidak dianggap sekadar “lahan kosong”, melainkan aset sejarah yang memperkaya narasi Kota Pahlawan.

Ruang Terbuka yang Inklusif

Uniknya, Punden Sonokwijenan tidak hanya didatangi oleh mereka yang ingin berziarah secara spiritual. Area di sekitar punden sering kali menjadi ruang interaksi sosial bagi warga.

Di tengah minimnya ruang publik yang “gratis” di kawasan Surabaya Barat, punden menyediakan keteduhan alami yang tidak ditemukan di dalam gedung ber-AC.

Melestarikan Punden Sonokwijenan berarti menjaga paru-paru sejarah kota. Di sinilah Surabaya menunjukkan wajah aslinya: sebuah kota metropolitan yang tidak lupa pada pangkal akarnya. (yg/red)

Bagikan

Penulis

Menu Aksesibilitas βœ•
πŸŒ“
Contrast
ε€§
Bigger Text
🏁
Grayscale
πŸ”„
Reset