Batu Kecubung, Tetap Menjadi Primadona di Tengah Pasang Surut Batu Mulia

ilustari batu kecubung ungu
ilustari batu kecubung ungu

Loka, Surabaya – Trend batu mulai di tanah air, memang mengalami pasang surut. Namun, satu nama ini tetap menjadi primadona di kalangan kolektor, yakni kecubung. Dikenal di dunia internasional sebagai Amethyst, batu berwarna ungu ini bukan sekadar aksesori jemari. Bagi banyak orang di Nusantara, Kecubung adalah perpaduan antara keindahan visual, status sosial, dan kedalaman filosofi.

Batu Kecubung asli memiliki tingkat kekerasan 7 skala Mohs, yang membuatnya cukup tangguh untuk dikenakan sehari-hari. Secara visual, Kecubung berkualitas tinggi tidak memiliki gelembung udara di dalamnya, melainkan serat alami yang halus. Dingin saat menyentuh kulit dan memiliki dispersi cahaya yang tajam adalah tanda autentisitas yang sulit dipalsukan oleh material sintetis.

SobatLoka, batu akik bukan sekadar komoditas. Ada aspek budaya yang kental di sana. Kecubung sering dikaitkan dengan ketenangan batin dan penjaga kewarasan—merujuk pada asal kata Yunani amethystos yang berarti “tidak mabuk”.

“Berinvestasi di batu akik seperti Kecubung itu soal rasa. Harganya mungkin naik turun mengikuti tren, tapi nilai sejarah dan kepuasan saat melihat serat kristalnya tak bisa diuangkan,” ujar Andi, seorang kolektor di Surabaya, Rabu (15/4/2026).

Kecubung bukan merupakan jenis tunggal. Setiap bongkahannya menyimpan identitas geografis dan karakter mineral yang unik. Kecubung Ungu (Amethyst) misalnya. Ini adalah jenis yang paling ikonik. Warna ungu pekat (sering disebut ungu terong) dengan tingkat kejernihan tinggi menjadi buruan utama. Kalimantan, khususnya daerah Pangkalan Bun, masih memegang predikat sebagai penghasil Kecubung terbaik dengan kualitas kristal yang menyaingi pasar Brasil.

Lalu bagi pecinta nuansa mistis dan elegen, akan memilih Kecubung Wulung. Sekilas tampak hitam pekat, namun saat disorot cahaya, memancarkan warna ungu kemerahan yang jernih. Di pasar, Wulung sering dianggap sebagai simbol perlindungan dan kewibawaan.

Jenis lainnya adalah Kecubung Es dan Kinyang. Jenis ini memiliki karakter transparan layaknya bongkahan es. Keindahannya terletak pada inklusi alami di dalamnya yang sering membentuk pola unik seperti rambut atau serat emas.

Untuk harga, jenis Kecubung Wulung berkisar antara Rp650.000 hingga Rp8.500.000 tergantung pada kualitas “tembus” dan bersih. Sedangkan untuk jenis Kecubung Ungu, termurah di harga Rp350.000 dan termahal bisa mencapai diatas Rp5.000.000 tergantung kepekatan warna dan ukuran karat.

Sementara itu, jenis Kecubung Es dan Kinyang bisa dikatakan paling murah, karena hanya berkisar antara Rp150.000 hingga Rp1.500.000. Jenis ini biasanya untuk perhiasaan kasual dan liontin.

Jadi, SobatLoka, apakah tertarik mengoleksi batu mulia jenis Kecubung? (yg/red)

Bagikan

Penulis

Menu Aksesibilitas
🌓
Contrast

Bigger Text
🏁
Grayscale
🔄
Reset