Yuk, Tanamkan Akhlak pada Generasi “Zaman Now” dari Hati ke Hati

Pendakwah Nasional Saleh Mahmud, Saat Jadi Pembicara di Sidoarjo. Foto (Dania/Redaksi)

Loka,Surabaya โ€“ Menjadi orang tua di era digital bukan sekadar perkara memberi fasilitas, melainkan tentang ketajaman rasa dalam beradaptasi. Tantangan inilah yang mengemuka dalam Talkshow with Parents garapan SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage di Gedung Puspenerbal Juanda, Sabtu (25/4/2026).

Menghadirkan pendakwah nasional, Saleh Mahmud, kegiatan ini membedah urgensi perubahan pola asuh yang lebih adaptif. Orang tua diingatkan bahwa mendidik anak dengan “kacamata masa lalu” tidak lagi relevan untuk menghadapi tantangan zaman yang kian dinamis.

โ€œSetiap anak hidup di zamannya. Maka cara mendidiknya juga harus menyesuaikan zaman itu, tanpa sedikit pun meninggalkan nilai-nilai akhlak. Kuncinya tetap sama, yaitu pendekatan dari hati ke hati,โ€ ujar Saleh Mahmud di hadapan ratusan orang tua.

Lebih Banyak Mendengar

Di tengah derasnya arus informasi digital, komunikasi satu arah dinilai sudah usang. Saleh menekankan pentingnya komunikasi terbuka di mana orang tua berperan sebagai teman diskusi yang memahami dunia anak, bukan sekadar penegak aturan.

Menurutnya, generasi saat ini jauh lebih membutuhkan ruang untuk didengar. Dengan memahami sudut pandang anak, orang tua memiliki pintu masuk yang lebih lunak untuk menanamkan nilai-nilai moral tanpa memicu resistensi.

โ€œAjak bicara, pahami apa yang mereka rasakan. Dari situ kita bisa menanamkan nilai dengan cara yang lebih mudah diterima oleh mereka,โ€ jelasnya.

Keteladanan adalah Fondasi

Meski teknologi terus berkembang, satu hal yang tidak berubah dalam dunia pendidikan anak adalah keteladanan. Anak-anak tetap menjadi “peniru ulung” yang lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat di rumah daripada apa yang mereka dengar melalui nasihat.

Kepala SD Muhammadiyah 3 Ikrom, Nur Suciati menambahkan, sekolah terus berupaya menjembatani pemahaman antara orang tua dan lingkungan belajar. Ia berharap orang tua tidak hanya terpaku pada angka-angka prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter.

โ€œSinergi antara sekolah dan keluarga adalah kunci. Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral karena mendapatkan cinta yang utuh dari rumah,โ€ ungkap Nur Suciati.

Melalui diskusi yang dipandu moderator Ustadz Lazuardi Rahman ini, pesan besarnya sangat jelas: Pendidikan berbasis cinta, keteladanan, dan komunikasi yang hangat adalah benteng terakhir untuk melahirkan generasi berakhlak di tengah perubahan dunia yang serba cepat. (dn/red)

Bagikan

Penulis

Menu Aksesibilitas โœ•
๐ŸŒ“
Contrast
ๅคง
Bigger Text
๐Ÿ
Grayscale
๐Ÿ”„
Reset