Loka, Surabaya – Kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Tunjungan tampak berbeda pada Minggu (26/4/2026) pagi. Di tengah keramaian warga yang berolahraga, ratusan perempuan berkumpul menggaungkan sebuah komitmen penting bagi masa depan bumi,” beralih dari pembalut sekali pakai ke produk ramah lingkungan”.
Aksi bertajuk deklarasi ‘She Heroes’ ini diinisiasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkolaborasi dengan Bumbi, sebuah gerakan sosial lingkungan. Momentum ini sekaligus memperingati Hari Bumi yang jatuh setiap 22 April. Di kegiatan ini, mereka fokus menekan volume sampah plastik yang kian mengkhawatirkan.
Ancaman di Balik Pembalut Sekali Pakai
Asisten 1 Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Surabaya, M. Fikser, yang hadir mewakili Wali Kota Eri Cahyadi, memberikan apresiasi tinggi terhadap gerakan ini. Ia menegaskan bahwa limbah sanitasi seperti pembalut dan popok sekali pakai adalah bom waktu bagi ekosistem.
“Sampah jenis ini membutuhkan waktu hingga 500 tahun untuk terurai. Ini adalah ancaman nyata bagi lingkungan kita. Tidak hanya mencemari sungai, tapi juga sangat sulit didaur ulang saat sampai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” ujar Fikser di hadapan peserta.
Fikser, yang juga menjabat sebagai Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, mengajak 500 perempuan yang hadir untuk menjadi agen perubahan (agent of change) mulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga.
“Jika anak bicara kepada orang tuanya tentang lingkungan, biasanya lebih didengar. Mari kita jaga kota ini dengan mengurangi sampah, menanam pohon, dan menghemat air,” tambahnya sembari berterima kasih kepada komunitas seperti Tunas Hijau, Ecoton, dan Rotary yang terus konsisten mengawal ekologi kota.
Jejak Mikroplastik
Data mengejutkan dipaparkan oleh Founder dan CEO Bumbi, Celia Siura. Dengan sekitar satu juta perempuan usia produktif di Surabaya, potensi sampah pembalut yang dihasilkan mencapai 7 ribu ton per tahun yang berakhir di sungai, laut, dan TPA.
Tak hanya soal estetika lingkungan, penggunaan pembalut sekali pakai juga berdampak pada ekonomi dan kesehatan.
“Secara ekonomi, ada sekitar Rp900 miliar yang terbuang sia-sia hanya untuk pembalut sekali pakai dalam setahun di Surabaya,” ungkap Celia.
Ia menjelaskan, sampah tersebut nantinya akan hancur menjadi mikroplastik. Partikel halus ini masuk ke rantai makanan melalui ikan, dan pada akhirnya masuk ke tubuh manusia yang dapat memicu risiko penyakit serius seperti diabetes hingga stroke.
Sebagai solusi, Bumbi memperkenalkan pembalut kain (reusable pads) berkualitas tinggi yang antibocor dan nyaman. Melalui deklarasi ‘She Heroes’, perempuan Surabaya diharapkan menjadi pionir dalam gaya hidup minim sampah.
Acara ditutup dengan pembacaan komitmen bersama oleh seluruh peserta:
“Kami perempuan Kota Surabaya, hari ini memilih untuk berubah. Kami memilih hidup lebih sehat, lebih bijak dan peduli pada bumi. Kami berani mengurangi pemakaian pembalut sekali pakai, dimulai dari diri kami sendiri.”
Langkah kecil dari Tunjungan ini diharapkan menjadi gelombang besar yang mengubah pola konsumsi masyarakat demi bumi yang lebih sehat bagi generasi mendatang. (ss/red)







