Resensi Buku: Menemukan Makna Menjawab (?)

Buku Menjawab (?). Foto : (Istimewa)
Buku Menjawab (?). Foto : (Istimewa)

Loka, Surabaya – Dalam kehidupan manusia, seringkali di pikiran muncul rentetan pertanyaan, seperti Mengapa ini terjadi? Ke mana arah hidup ini? Mengapa bahagia terasa begitu mahal? Pertanyaan-pertanyaan “eksistensial” inilah yang coba dipetakan oleh Yovinus Guntur Wicaksono dan Fena Olyvira Sinatra melalui karya kolaboratif mereka yang bertajuk Menjawab (?).

Buku ini bukan sekadar kumpulan teks motivasi yang memberikan janji-janji manis. Sebaliknya, Menjawab (?) terasa seperti sebuah percakapan hangat di meja kopi antara dua kawan lama yang mencoba jujur terhadap keraguan mereka masing-masing. Tanda tanya di dalam kurung pada judulnya adalah kunci; ia memberi isyarat bahwa jawaban bukanlah sebuah titik mati, melainkan sebuah proses yang terus mengalir.

Dialektika Pikiran dan Rasa

Yovinus dan Fena membawa latar belakang yang saling melengkapi. Narasi yang dibangun dalam buku ini memadukan pendekatan psikologis, spiritualitas, hingga refleksi harian yang sangat membumi. Pembaca diajak untuk tidak takut pada ketidakpastian.

Alih-alih memberikan jawaban tunggal yang kaku, para penulis mendorong pembaca untuk berdamai dengan pertanyaan itu sendiri. Ada sebuah benang merah yang kuat dalam buku ini: bahwa sering kali, jawaban yang kita cari tidak berada di luar sana, melainkan terkubur di bawah tumpukan trauma, ekspektasi sosial, dan ketakutan yang dipelihara sendiri.

Gaya Bahasa yang Menjangkau Jiwa

Gaya penulisan dalam Menjawab (?) sangat cair. Tidak ada kesan menggurui. Setiap babnya disusun dengan porsi yang pas untuk dibaca di tengah jeda kesibukan masyarakat urban yang padat. Bagi pembaca yang sedang mengalami quarter-life crisis atau sekadar merasa tersesat dalam rutinitas, buku ini hadir sebagai kompas kecil yang menenangkan.

Visualisasi dan tata letak di dalamnya pun dirancang untuk memberikan ruang bagi pembaca untuk berpikir. Ini adalah jenis buku yang tidak seharusnya habis dibaca dalam sekali duduk, melainkan dibaca perlahan, diresapi, dan mungkin menjadi pemantik untuk menuliskan jawaban-jawaban pribadi di tepian kertasnya.

Menjawab (?) adalah sebuah pengingat bahwa menjadi manusia berarti berani bertanya. Yovinus dan Fena berhasil mengemas kerumitan batin ke dalam bahasa yang sederhana namun tidak dangkal. Buku ini layak menjadi pegangan bagi siapa saja yang ingin memulai perjalanan ke dalam diri, mencari kejernihan di tengah bisingnya dunia. (yg/red)

Bagikan

Penulis

Menu Aksesibilitas
🌓
Contrast

Bigger Text
🏁
Grayscale
🔄
Reset