Loka, Surabaya – Gaya hidup sehat kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat Surabaya, Jawa Timur. Berbagai olahraga baru bermunculan dan dengan cepat menjadi tren di masyarakat. Salah satu yang paling populer adalah padel, olahraga raket yang memadukan unsur tenis dan squash.
Di balik popularitas olahraga padel muncul fenomena lain yang tidak kalah mencolok, yakni meningkatnya jumlah cedera olahraga yang berakhir di meja fisioterapi bahkan ruang operasi. “Kalau terkait olahraga baru yang jelas padel itu nomor satu ya, cederanya ada dua ringan dan berat,” kata Owner Physiorehab, Simon Tri Prasetyo melansir Kompas.com.
“Kalau cedera ringan biasanya sakit di area elbow nya, tidak pernah menggunakan raket tiba-tiba olahraga raket kesannya kan gampang dan mudah. Padahal itu membutuhkan adaptasi bisa mengalami tennis elbow dan golfer’s elbow atau keseluruhan elbownya sakit,” imbuhnya.
Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya cedera berat yang membutuhkan tindakan operasi. “Ya amit-amit yang paling berat ada yang putus ligamen engkel dan ligamen lutut dari 1-2 kali main padel habis itu harus operasi. Itu yang semakin banyak sekarang,” ujar fisioterapi yang sudah berpengalaman lebih dari 12 tahun.
Cedera Padel Kini Dominasi Kasus Operasi
Menurutnya, sebelum tren padel muncul, mayoritas pasien operasi berasal dari cedera basket, futsal, sepak bola maupun kecelakaan lalu lintas. Kini situasinya berubah drastis semenjak tren olahraga padel naik. “Sangat jauh dibilang kasus operasi didominasi cedera padel, 50 persen kali ya. Selama ini kan banyak dari basket, sepak bola, futsal kecelakaan sepeda motor dll,” ujar pria yang biasa disapa Simon itu.
“Semenjak ada padel cus terbang peningkatan cederanya, makanya kami terus mengedukasi teman-teman yang main padel boleh sehat karena berolahraga tapi harus tahu kapasitasnya,” sambungnya.
Mayoritas korban cedera berasal dari kelompok usia produktif antara 20 hingga 40 tahun. “Untuk yang rawan di olahraga baru ini resiko cederanya sangat berat apalagi kalau belumnya mereka belum pernah melakukan olahraga,” kata fisioterapis lulusan Universitas Esa Unggul itu.
Ia menjelaskan bahwa pemain yang sebelumnya memiliki dasar olahraga raket seperti badminton atau tenis cenderung lebih siap beradaptasi. “Tapi kalau tidak ada sama sekali, tiba-tiba main padel seminggu 2-3 kali pasti mereka terlalu berat,” imbuhnya.
Banyak orang mengira cedera padel hanya terjadi pada siku atau pergelangan tangan. Faktanya, cedera pada lutut dan engkel justru menjadi kasus yang paling serius. “Lompat salah landing kesleo dan bahkan patah tulang juga banyak. Patah tulang gara-gara jatuh padel itu banyak sekali perempuan biasanya. Sebulan kita bisa dapat pasien habis operasi dan itu cukup banyak,” pungkas Simon (*/red)







