Ratusan Tambak di Sidoarjo Rugi Rp20 M Akibat Banjir Rob

Kondisi hutan mangrove di pesisir Sidoarjo rusak parah. (sumber: rri)  

Loka, Sidoarjo – Gelombang banjir rob yang kembali menerjang kawasan pesisir Kabupaten Sidoarjo mengakibatkan kerugian besar bagi para petambak. Sebanyak 207 tambak di Dusun Gisik Kidul, Desa Tambakcemandi, Kecamatan Sedati, terendam air laut.

Ribuan ikan yang hampir memasuki masa panen dilaporkan hanyut terbawa arus, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp20 miliar. ‎Ketua LPMD Desa Tambakcemandi, Thohir, mengatakan banjir rob kali ini menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

Selain kehilangan hasil budidaya, para petambak juga harus menanggung kerusakan tanggul dan fasilitas tambak yang membutuhkan biaya besar untuk pemulihan. ‎“Kurang lebih ada 207 tambak yang terdampak rob. Banyak ikan yang sudah mendekati masa panen hanyut terbawa air laut. Kalau dihitung secara keseluruhan, kerugian petambak diperkirakan mencapai Rp20 miliar,” ujar Thohir, Sabtu (6/6/2026).

‎Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sidoarjo, Muhammad Yunan Khoiron, menilai rusaknya kawasan mangrove di pesisir menjadi faktor utama yang memperparah dampak banjir rob. Berkurangnya vegetasi mangrove membuat gelombang pasang laut lebih mudah menerjang tambak dan kawasan permukiman warga.

“Adanya rob yang menerjang tambak para warga ini disebabkan oleh rusaknya mangrove yang ada di pesisir Sidoarjo, sehingga air dengan mudah bisa langsung menerjang tambak milik warga,” kata Yunan.

Menurutnya, mangrove memiliki fungsi vital sebagai benteng alami penahan gelombang laut, abrasi, dan intrusi air asin. Namun, berkurangnya luasan mangrove dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan perlindungan alami terhadap wilayah pesisir semakin melemah.

Kondisi tersebut membuat kawasan tambak di Sedati menjadi lebih rentan setiap kali terjadi pasang laut tinggi. ‎Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Perikanan, banjir rob di wilayah pesisir Sidoarjo umumnya terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada periode Mei–Juni dan November–Desember.

Fenomena tersebut terus berulang dan menjadi ancaman serius bagi sektor perikanan budidaya yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat pesisir. “Fenomena ini hampir terjadi setiap tahun. Karena itu perlu ada langkah jangka panjang untuk mengurangi dampaknya, salah satunya dengan memperkuat kembali kawasan mangrove di sepanjang pesisir,” ujarnya.

Yunan menegaskan rehabilitasi mangrove kini menjadi kebutuhan mendesak. Pihaknya berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kelautan dan Perikanan dapat memberikan dukungan berupa program penanaman dan pemulihan mangrove secara masif di kawasan pesisir yang rawan terdampak rob, khususnya di wilayah Tambakcemandi dan sekitarnya. ‎“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah provinsi untuk membantu rehabilitasi mangrove di pesisir Sidoarjo. Mangrove menjadi pelindung alami yang sangat penting bagi tambak dan masyarakat pesisir,” katanya.

Selain mendorong rehabilitasi, Dinas Perikanan juga terus melakukan patroli rutin untuk mencegah kerusakan mangrove akibat aktivitas penebangan liar. Edukasi kepada nelayan dan masyarakat pesisir turut digencarkan agar ekosistem mangrove yang tersisa dapat terus terjaga dan berfungsi sebagai benteng alami menghadapi ancaman banjir rob di masa mendatang. (ann/red)

 

Bagikan

Penulis

Menu Aksesibilitas
🌓
Contrast

Bigger Text
🏁
Grayscale
🔄
Reset